Memoar Kizuna

Niat kami dari awal untuk perjalanan ini adalah untuk belajar. Meskipun tujuan sebenarnya dari acara ini bukanlah untuk pembelajaran. Niat kami sebagai seorang relawan yang datang dari negeri rawan bencana adalah untuk memahami bagaimana negara lain yang memiliki kondisi sama (rawan bencana) mampu bangkit dengan waktu yang relatif singkat. Kami berharap kami menemukan sesuatu yang memang dapat kami aplikasikan di negara kami. Meski harapan dari negara yang mengundang kami tidaklah demikian. Namun sepuluh hari di Jepang bukan berarti tidak mempelajari apapun. Sepuluh hari di Jepang tidak sepenuhnya main-main dan tidak sembarangan main. Benar kata Rasul, apapun yang diniatkan pasti dia akan mendapatkan apa-apa yang diniatkan tersebut. yaa inilah sepenggal kisah yang menurutku adalah sebuah pelajaran berharga dalam setiap harinya, khususnya di bidang bencana. Beberapa ada yang memenuhi ekspektasi (bahkan lebih) namun beberapa ada yang tak memenuhi. Meski demikian pengalaman ini terlalu berharga untuk disimpan sendiri. Pengalaman ini terlalu sayang jika tidak dibagi. Saya yang juga mewakili grup D (kami) dalam tulisan ini mencoba menuangkan kembali apa-apa yang bermakna dari perjalanan 10 hari di Jepang.

Image Kesan pertama yang saya tangkap saat dilepas oleh kedutaan Jepang untuk Indonesia cukup menyentuh. Hal yang membuat tersentuh adanya pengakuan dari Pak Tadashi Ogawa bahwasanya salah satu latar belakang program Kizuna adalah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada (masyarakat) Indonesia atas kepeduliannya ketika Jepang dilanda musibah tsunami dan nuklir dua tahun silam. Meski itu hanya sebuah e-mail simpatik, kata-kata semangat, dan kalimat motivasi lainnya. Namun itu sangatlah berkesan bagi orang-orang Jepang seperti Tadashi Ogawa. Disini saya belajar bahwasanya orang Jepang sangat apresiatif , sekecil apapun kontribusi kita asalkan itu berkesan pasti akan selalu diingat dan diupayakan pembalasan sebesar-besarnya. Dari sini pun saya baru menyadari bahwasanya program ini tidak hanya diikuti oleh kami grup D yang merupakan aktivis di bidang kebencanaan, tetapi juga anak SMA dan mahasiswa lain yang diseleksi secara individu

Hari pertama di Jepang, saya langsung merasakan atmosfir keseriusan yang coba diutarakan oleh penyelenggara (dalam hal ini JICE). Beberapa briefing penting untuk memahami keseluruhan acara mulai dilakukan. Bahkan mereka menyediakan translator (penerjemah) yang juga fasih dalam bahasa Indonesia. Padahal seleksi grup D mewajibkan aktif bahasa inggris, apalagi di seleksi grup lain yang mewajiban bisa bahasa Jepang. Saya nilai itu sebagai bentuk dari keseriusan orang Jepang untuk lebih fokus ke konten dan isi. Saya pun tersenyum ketika di akhir ada workshop dan persentasi tentang action plan. Yah rencana kerja sepulangnya acara ini, kemudian mempersentasikan rencana kerja tersebut kepada tokoh masyarakat di Jepang dan tentunya seluruh peserta yang lain. Saya langsung terbayang program “Masjid tangguh” dan muncul semangat menggebu ketika itu juga. Namun ada yang sedikit yang mengganjal, muncul kata-kata “untuk menceritakan keadaan Jepang saat ini (sebenernya) kepada seluruh dunia”. Meski demikian kusimpan penasaran itu karena memang tak ada waktu untuk Tanya jawab.

Esok harinya kita berangkat pagi sekali sekaligus packing kembali untuk berpindah kota sekaligus Hotel ke Prefektur (Provinsi) Ibaraki, tepatnya di Kota Itako. Sebuah Kota yang daerahnya juga terkena Gempa besar. Sebelum pergi ke Kota Itako, kami menyempatkan untuk mendengar ceramah dari akademisi, yaitu Profesor Kubo mengenaiI khtisar perjalanan ke depan. Beliau juga menjelaskan gempa dan tsunami yang menerjang Jepang waktu itu. Selain itu beliau menjelaskan terkait penanganan secara keseluruhan, mulai dari Pra, Bencana, dan Pasca. Penjelasan cukup mudah dimengerti dan komprehensif meski tak mendetail. Beliau menjelaskan dengan bahasa Jepang dan slide bahasa Jepang, namun kami diberikan modul berbahasa Indonesia dan seorang penerjemah. Kami mendapatkan gambaran mengenai gempa dahsyat dan penanganannya secara menyeluruh seperti bagaimana membangun rumah yang tahan gempa (konsep dasar), me-mitigasi korban bencana alam, dan yang paling menarik adalah proses recovery yang harus hati-hati dan terukur. Banyak hal baru yang didapatkan disini mengenai keseriusan pemerintah Jepang dalam menangani bencana. Bahkan kami pun diceritakan bahwasanya Jepang sudah membangun tembok anti tsunami. Namun sayang mereka tidak memperhitungkan jika tsunaminya sebesar peristiwa 2 tahun lalu. Alasan mereka cukup logis karena memang belum pernah ada tsunami sebesar itu sebelum. Patokan mereka hanya gempa tsunami Chili saja. Materi yang cukup berbobot dan sedikit ilmiah mungkin cuma ini di sepanjang pertualangan Kizuna. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Kota Itako perf. Ibaraki. Di hotel Itako kami disambut dengan baik. Kami lalu berkumpul ntuk mendengarkan sambutan perwakilan PEMDA Itako serta Manager Hotel. Yang menarik disini adalah pengakuan manager hotel kalau untuk acara Kizuna ini dia sengaja mencari butcher (penjual daging) yang muslim sehingga menjamin kehalal-an daging sapi dan ayam

Hari berikutnya kami diajak ke kuil Shinto. Awalnya saya kira perjalanan ini untuk mempelajari bagaimana peran kuil dalam menghadapi bencana. Ternyata ini hanya sekedar kunjungan kebudayaan dan mengetahui jika di Kuil ini pernah mengalami kerusakan ketika gempa berlngsung lalu saat ini renovasinya mulai selesai. Perjalanan lalu dilanjutkan ke stadion sepak bola milik Klub Kashima Anthlers.

Image

Sebuah klub yang terkenal di Jepang karena banyak memenangkan kompetisi lokal dan Nasional. Bisa diibaratkan ini sama dengan MU di EPL. Selain mengenalkan tentang Sejarah Kashima, juga mengenalkan bagaimana Stadion ketika bencana terjadi. Meski awalnya saya sulit mendapatkan apa yang saya cari mengenai hubungan stadion ini dengan proses IDM (integrated disaster management) rasa ingin tahu saya terpuaskan ketika mereka menyatakan ke depannya jika bencana yang sama terjadi, stadion ini akan menjadi tempat evakuasi sementara, lalu tempat ini pun akan menjadi pusat distribusi logistik untuk kota Kashima. Ketika berkeliling di sekitar stadion pun kami diperlihatkan tentang cadangan air minum yang dipersiapkan di stadion ini. Saya lupa berapa tepatnya air dapat ditampung. Yang jelas cukup untuk menghidupi satu penduduk kota ketika kondisi darurat. Hal ini wajar karena gempa denganskala 9.5 SR pun stadion itu masih berdiri, meski ada beberapa pergeseran disana-sini masih terlihat. Ketika berkeliling saya coba menggali lebih jauh dengan bertanya bagaimana jika ketika terjadi pertandingan lalu ada bencana atau peristiwa apapun yang mengharuskan proses evakuasi. Mereka menyatakan ketika ada peristiwa seperti itu maka. Kepala keamanan stadion atau stakeholder darurat tertinggi akan menenangkan terlebih dahulu para penonton untuk tetap dikursinya, baru kemudian akan diarahkan menuju rute evakuasi dengan bantuan petugas keamanan. Setidaknya hari ini cukup puas dengan Kashima Stadium meski masih kurang.

Esoknya perjalanan kami menuju kota yang disebut Sawara. Sebuah kota yang memiliki sungai dengan nilai sejarah yang tinggi. Daerah ini sangat terkenal di zaman Edo, terlebih terdapat satu sungai utama (Onogawa) yang menjadi rute utama transportasi menuju Edo (Tokyo) sejak era Tokugawa. Jika pembaca ingat film Samurai x. Pasti akan familiar dengan sungai ini. Sungai ini cukup bersih (menurut saya) meskpun kata penduduk saat itu sungai ini sedang kotor. Kami menaiki perahu untuk menyusuri sungai, karena saat itu musim dingin maka perahu pun dilengkapi dengan kotatsu. Suatu meja yang ditutupi selimut yang berfungsi untuk penghangat kala musim dingin. Rumah –rumah sepanjang sungai, ada yang sengaja diatur agar kembali sepert zaman Edo dan itu diatur dalam UU daerah. Setelah menyusui sungai. Kami lalu diantar menuju musium arak-arakan. Jepang sangat menyukai arak-arakan dan menjadi bagian kehidupan spiritual mereka sejak lama. Seperti di Indonesia, mereka biasanya membuat suatu patung raksasa yang naik kereta (arak-arakan) yang dibawa mengitari jalan ketika festival berlangsung. Biasanya itu merupakan perwujudan doa dan syukur kepada spirit (roh alam) yang diwujudkan dalam bentuk yang berbeda-beda di patungnya (ikan, samurai, pahlawan, dll). Kota Sawara biasa melakukan festval dua kali dalam setahun. Setiap musim panas dan musim gugur, meskipun saat itu mereka baru terkena bencana, mereka tetap melakukan festival dngan tujuan memohon doa dan restu.

Setelah dari museum arak-arakan, kami dipandu ke sebuah ruangan untuk mendapat cramah dari NGO yang mengurus revitalisasi sungai Onogawa serta recovery wilayah sekitar sungai pasca Gempa besar. Hal yang paling menarik tentu saja adalah perjuangan pak Kentaro dalam memparbaiki pola pikir masyarakat dan lingkungan sungai di sekitar sungai Onogawa. Kota Sawara di era modern awalnya sangat sepi dan ditinggalkan penduduk karena urbanisas. Hingga akhirnya pak Kentaro dan kawan-kawannya  mendorong masyarakat agar mau peduli terhada sungai Onogawa, mulai dari membersihkan dan membuatnya indah agar kejayaan di masa Edo kembali muncul sehingga memiliki nilai historis yang kuat. Melihat sungai ini saya jadi teringat akan sungai Cikapundung di kota Bandung. Kali ini pun saya berkesempatan untuk sharing dan bertanya  ke beliau  mengenai tips dan trik membuat kota terebut menjadi kota wisata. Sawara yang dulunya sempat ditinggalkan penduduknya kini menjadi ramai kembali berkat usaha revitaslisasi sunga tersebut.

Dalam kesempatan itu pun kami diceritakan mengenai recovery pembuatan dan pembangunan rumah pasca gempa. Sejujrnya saya tidak terbayang jika dampak yang diakibatkan gempa bisa separah itu. Jalan hancur, pecah, seakan bumi terbelah, rumah ada yang tinggi ada yang rendah namun dengan financial management yang cukup serta mental baja yang kuat dan didukung oleh pemerintah yang fokus dan peduli maka pemulihan itu berlangsung singkat. Rumah (kecuali rumah untuk pemugaran budaya karena memerlukan ketelitian dalam membangunnya) sudah kembali normal, jalan kembali rata, serta kota tersebut sudah kembali ramai. Hal unik lainnya adalah saat ini mereka membangun rumah dengan teknik yang lebih kuat dan rapih, bahkan menggunakan kearifan lokal dahulu yaitu menggunakan tanah dan jerami yang difermentasi sebagai pengganti dari semen dan pasir. Itu merupakan resep turun temurun agar meminimalisir korban gempa bumi.

Perjalanan dilanjutkan ke sebuah workshop penanganan banjir di Kota Katori. Wilayah Ibaraki bagian timur merupakan kota pelabuhan dan banyak anak sungai. Karena itu kota ini juga memiliki metode untuk mencegah banjir. Merka berfokus pada pencegahan dengan teknologi yang sangat tinggi untuk mencegah banjir. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah dibuatnya peta rawan banjir di beberapa daerah di wilayah ini. Peta ini cukup detail dan jelas, sehingga warga bisa tahu mana daerah yang memang lauyak ditinggal dan mana yang tidak. Selain itu juga mereka membuat penahan tsunami yang telah dievaluasi pasca bencana tsunami 2011. Hari kamis ini memang cukup banyak yang bisa diambil pelajaran dari segi kebencanaan.

Hari berikutnya Juma’at kami mengnjungi kawasan industri. Kami coba dikenalkan bagaimana cara suatu pabrik ketika terkena musibah beserta bagaimana mereka membangun pabriknya kembali. Ketika gempa terjadi listrik padam total dan beberapa alat pabrik rusak. Semua mesin berhenti total dan produksi terhambat. Mesin produksi yang bisanya kerja 24 jam saat gepa terjadi berhenti secara total. Bagusnya perusahaan ini memiliki system manajemen bencana yang cukup apik dan terlatih. Koordinator pabrik yang memegang peran komando saat terjadi kondisi darurat. Semua karyawan berkumpul dalam satu gedung yang memegang didesain untuk tahan gempa. Semua karyawan diinapkan semalam dan disediakan makanan ransum yang memang sudah disimpan secara berkala. Disamping mendengar cerita pengalaman saat bencana, kami pun diajak jalan-jalan untuk melihat proses recovery bangunan. Beberapa jalan yang sempat retak dan terbelah kini sudah diperbaiki seperti sedia kala dan beberapa pipa-pipa pabrik yang awalnya rusak kini seperti tak berbekas. Beruntung, untuk bangunan seperti reactor dan bioreactor tidak mengalami kerusakan ketika gempa. Hal ini disebabkan karena sudah didesain untuk tahan gempa.

Setelah makan siang di suatu hotel besar (menunya sih biasa) perjalanan di lanjutkan menuju SMAN 1 Itako. Disana kami disambut cukup hangat disertai upacara penyambutan. Pada acara itu diceritakan bagaimana SMAN Itako saat terjadi gempa. Bagaimana sikap anak-anak pada saat menghadapi gempa. Diceritakan pula kesan seorang anak sekolah saat gempa berlangsung. Meski cukup mengharukan ada beberapa hal yang dicatat dari pertemuan singkat itu seperti . Sekolah tidak menjadikan kebencanaan sebagai kurikulum pelajaran melainkan sebagai suatu sikap siaga yang memang dilatih satu tahun sekali (bertepatan dengan simulasi nasional). Selain itu sudah ada hirarki darurat dalam sekolah ketika bencana terjadi, termasuk bagaimana mengelola kondisi darurat di sekolah tersebut. Meski kurang puas saat mendengar jika sekolah tersebut tak menjadi pusat evakuasi ketika gempa yang lau terjadi. Setelah acara penyambutan kami lalu foto bersama dan dilanjutkan dengan mempelajari sedikit ekstrakulikuler mereka. Acara disini cukup berkesan karena dengan waktu yang sedikit kami merasa cukup akrab dengan anak-anak sekolah (mungkin karena sama-sama masih muda atau karena seragam sekolah wanita Jepang yang menarik #eaaa). Hal yang menarik saat di sekolah adalah ketika saya diberikan kesempatan untuk memberikan kata sambutan-penutup. Disitu saya mengutarakan kalimat sedikit gombal yang cukup membuat suasana sangat cair dan mendapat apresiasi luar biasa dari pihak sekolah dan JICE. Hanya sebuah kalimat namun sangat bermakna dan itu bisa menjadi hal yang diapresiasi oleh orang lain. Mungkin itu termasuk pelajaran yang dapat saya ambil di hari itu.

Sepulang dari sekolah saya semakin yakin bahwasanya tujuan Kizuna ini berbeda dengann tujuan kami grup D. Kami mengharapkan ilmu dan pembelajaran lebih tapi mungkin program ini hanya mengedepankan sharing pengalaman dan jalan-jalan untuk memahami kondisi Jepang saat itu. Jepang hanya mengharap agar kami bisa menceritakan dan menyebarluaskan kondisi mereka sehingga masyarakat dunia tidak takut lagi untuk pergi ke Jepang. Jepang tidak mengharap kita berbuat sesuatu untuk bangsa sendiri dan berkontribusi di bidang kemanusiaan sepualng dari sini. Nalar logis mengatakan ini memang sesuatu yang wajar, terlebih tidak ada yang gratis. Semua biaya ini bisa dinilai berjumlah 50 juta rupiah per anak, dikalikan 100 bukanlah suatu yang sedikit. Wajar jika mereka mengharap adanya tambahan devisa dari sisi pariwisata baik langsung ketika kami belanja oleh-oleh maupun ketika kami menceritakan kepada masyarakat dunia.

Esok harinya tepat di hari Sabtu, kami mendapat paparan dari Mr Hiroshi. Beliau adalah kepala dinas pariwisata Kota Itako serta menjadi koordinator darurat bencana Kota Itako. Dalam persentasinya beliau memaparkan bagaimana kondisi Kota Itako ketika gempa bumi terjadi. Bagaimana warga masyarakatnya menghadapi bencana. Beliau juga menceritakan bagaimana proses recovery berjalan bertahap dari awal samai akhir. Prioritas dalam memperbaiki kota yang rusak dimulai dari jalan dan prasarana akses. Memeperbaiki jalan pun tidak sembarangan, karena harus memperbaiki saluran air bersih, saluran gas, saluran listrik kemudian saluran air kotor terlebih dahulu. Hal itu karena saluran-saluran tersebut berada di dalam tanah. Perbaikan dilakukan secara berurutan dan terstruktur. Setelah memperbaiki semua saluran pelayanan dan jalan perbaikan dilanjutkan ke rumah-rumah yang memang diatur diundang-undang harus mendapatkan pergantian akibat bencana. Tidak semua rumah mendapat biaya kompensasi tergantung dari jenis kerusakannya.

ImageSelain pemaparan dari Mr Hiroshi Nukaga. Pidato pun dilanjutkan oleh Manager Hotel, beliau menceritakan tentang bagaimana kebersamaan yang dimilki warga Jepang saat itu. Yang berkelebihan saling membantu yang kekurangan. Bahkan yang punya pemandian umum air panas, digratiskan bagi semua korban bencana didaerah tersebut. yaah saya teringat prinsip gotong royong yang dimiliki bangsa ini juga. Namun disini warga sangat percaya kepada pemerintah dan pemerintah sangat tegas dan teliti dalam memberikan bantuan bencana. Perjalanan hari itu lalu dilanjutkan menuju kuil agama Buddha kemudian hari itu ditutup dengan worshop action plan. Seperti yang saya utarakan di paragraph sebelumnya, workshop ini bukan untuk negara kita tapi apa yang bisa dikerjakan untuk menceritakan kondisi Jepang saat ini. Beruntung kami kelompok D tetap berpegang teguh terhadap niat awal kami. Karena itu kami sepakat membentuk 28idea.com . Suatu portal web yang tujuan utamanya sebenernya untuk mendukung kegiatan kemanusiaan kami di Indonesia. Dalam keberadaannya web ini juga mengayomi harapan Jepang untuk sharing kondisi mereka. Namun tujuan utamanya tetap sharing dan berbagi pengetahuan tentang kemanusiaan dan kebencanaan bagi masyarakat Indonesia

Hari-hari berikutnya lebih banyak diisi mengenai jalan-jalan dan pemantapan action plan melalui workshop. Tidak ada kegiatan yang menrutku berhubungan dengan kebencanaan lagi kecuai ketika tiba di Tokyo. Namun yang menarik dari ation plan kami (grup D). Kami mendapatkan apresiasi yang cukup luar biasa baik dari tuan rumah. Bahkan mereka (tuan rumah) menilai action plan grup D merupakan sesuatu yang berasal dari hati dibandingkan dengan grup lain.

Acara Kizuna resmi berakhir di Tokyo, karena itu kami pun kembali ke Tokyo. Sebelum ke hotel perjalanan diarahkan menuju Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana Honjo. Disini kita belajar secara interaktif terkait pendidikan bencana, baik alam maupun non-alam. Tidak hanya bencana tapi prinsip “safety” / Keselamatan dalam kerja dan kegiatan sehari-hari juga diajarkan disini. Ada beberapa simulasi yang sempat diikuti oleh kami. Sebelum simulasi kami masuk ke dalam suatu bioskop untuk melihat kilas balik bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat 2 tahun lalu, serta diperlihatkan bagaimana semangat orang Jepang dalam merehabilitasi sikap dan mental mereka. Simulasi pertama memadamkan api. Simulasi ini cukup menarik karena kita diajarkan secara virtual dan langsung bagaimana menggunakan alat pemadam kebakaran yang ada di rumah-rumah. Simulasi pun diajarkan sampai ke tingkat pemadaman api virtual. Simulasi kedua adalah tentang bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar terutama RJP (resusitasi Jantung Paru) namun RJP di Jepang juga lebih canggih karena diberikan alat khusus yang memang cukup “handy” dan mudah dibawa kemana-mana. Alat ini ternyata menjadi standar peralatan di setiap perkantoran dan sekolah di Kota besar Jepang. Simulasi ketiga tentang gempa bumi. Cukup menarik simulasi disini karena peserta masuk kedalam suatu ruangan yang nanti akan digoyang-goyang . yang menarik kita diajarkan apa yang harus terjadi saat gempa besar terjadi. Simulasi terakhir cukup unik, yaitu tentang simulasi banjir. Bagaimana kita keluar dari jebakan banjir baik di basement maupun dalam mobil. Meski di Jepang jarang terjadi banjir besar speerti di Jakarta. Namun mereka mempersiapkannya sejauh ini. Mungkin ini juga persiapan seandainya ada tsunami besar yang melanda kota Pesisir terutama Tokyo. Mungkin inilah hal terakhir yang menurut saya sangat bermanfaat secara kebencanaan dan kemanusiaan. Terlebih untuk persiapan dan prinsip keselamatan.

Sebenernya masih banyak hal yang ingin saya tulis dan tuangkan. Masih banyak juga sisi humanis dan emosional yang ingin saya utarakan dalam tulisan ini. Namun saya khawatir itu akan semakin jauh dari tujuan dibutnya tulisan ini. Bagaimanapun juga tulisan ini hanya lah rangkuman dari jurnal harian yang saya ditulis setiap hari selama perjalanan. Isi tulisan diatas hanyalah beberapa bagian penting yang sekiranya dapat bermanfaat untuk dibagi terutama dalam bidang kebencanaa dan kemanusiaan. Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan kesan saya terhadap hadis rasul. Dalam hadis Arba’in hadis ini berada di urutan satu. Manusia akan mendapatkan apa yang diinginkan sesuai dengan apa yang diniatkannya, jika dia mengnginkan ilmu maka ilmulah yang didapat, bila ia menginginkan kesenangan maka hanya kesenangan pulah yang didapat, namun jika ia mengninkan ridho Allah maka sesungguhnya itulah yang terbaik.

Iklan

Inspirasi Mudik 1431 H

Tulisan ini didesikasikan bagi jiwa-jiwa yag memiliki ketulusan penuh dalam berjuang dan tak kenal pamrih

11-9-10
Saat itu merupakan perjalanan kami sekeluarga pulang ke Tangerang. Setelah selama kurang lebih 2 hari kami mudik ke Banjarwangi, Desa Kadongdong. Perjalanan ke Banjarwangi cukup beresiko (lebay juga sh), tikungan yang tajam disertai turunan-tanjakan terjal berliku merupakan tantangan para pemudik setiap tahunnya, ditambah ancaman tanah longsor dan pohon tumbang yang menghantui para pengguna jalan. Desa Kadongdong berada di kecamatan Banjarwangi, suatu kecamatan yang cukup unik dan spesial, karena berada di kawasan lembah yang dikelilingi perbukitan dan gunung di sekitarnya, menjadikan kawasan ini seperti terisolir dari dunia luar. Untuk menuju kesana hanya ada satu akses lalu intas yang dilewati yaitu jalur yang biasa ditempuh oleh mobil elf dengan trayek Garut-Singajaya. jalur yang menuju ke arah selatan kota Garut, hampir searah dengan Kec. Pamengpeuk yang akhirnya dipisahkan sebuah pertigaan di daerah Cikajang. Seandainya dari arah Garut, belok kanan adalah ke Pameungpeuk maka belok kiri adalah ke arah Banjarwangi.

Seperti biasa jalan yang kami lewati merupakan jalan berkelok sempit dengan tebing yang cukup curam di sampingnya, bahkan kamipun sampai meminta bantuan kepada sanak saudara yang lebih berpengalaman menghadapi rintangan jalan untuk mengendarai mobil kami. Ketika berangkat mudik kemarin sebenarnya kami melewati bekas lelehan tanah longsor yang menimpa jalan dan hampir menutup separuh jalan, untungnya saat itu kami berangkat pada dini hari sehingga  kami mampu melewati daerah longsor tersebut sengan aman dan lancar. sampai H+2 lebaran kami mendengar kabar bahwa daerah tersebut masih rentan longsor, bahkan agar bisa dilewati dengan aman jalan tersebut diberlakukan sistem buka-tutup yang berpengaruh hingga radius 2,5 km (bayangkan 2,5 km ini dalam jalanan yang berkelok dan sempit, bukan jalan lurus seperti di kota). Konsekuensi logis yang harus kami terima dengan situasi tersebut adalah terhambat macet akibat sistem buka tutup. akhirnya kami pun tiba di lokasi, dalam radius kira-kira 1,5 km dari pusat longsor mobil kami terhenti disana. Terihat beberapa mobil dengan plat dari kota-kota di luar Garut yang berada di depan, belakang, maupun yang bergerak dari arah berlawanan. Kadangkala orang yang berada di mobil-mobil tersebut adalah teman atau sanak saudara kami yang kebetulan sama-sama mudik di dtempat yang sama, sehingga ketika ada mobil kami saling berpapasan tak heran kami pun saling mengamati satu sama lain berharap di mobil tersebut ada yang kami kenal. Sungguh ini merupakan pemandangan yang menarik bagiku.

Selang beberapa menit, tiba-tiba mobil yang harusnya berjalan dari arah lawan tiba-tiba terhenti, terang saja kami bingung dan cemas. Posisi deadlock tidak dapat kemana-mana. Selidik demi selidik ternyata itu disebabkan oleh para pengguna motor dari jalan yang ditutup (yang searah dengan mobil kami) tidak mau bersabar untuk menunggu dan berhenti. para pengguna motor tersebut menerobos ruas jalan berlawanan yang dibuka. hal ini menyebabkan jalan menjadi sempit dan macet, padahal ukuran jalan tersebut berbeda dari jalan yang ada di perkotaan yang relatif besar, sehingga ketika ruas jalan yang seharusnya dipakai oleh mobil di arah berlawanan diserobot motor maka kemacetanlah yang terjadi, padahal sudah diminta berhenti di jalur yang seharusnya.

Sedikit kesal memang melihat kejadian di atas, namun kekesalan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jerih payah para relawan yang mengatur barisan mobil agar tertib. relawan inilah yang membuatku terhenyak dan kagum, disaat mereka seharusnya berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara ternyata mereka harus melayani masyarakat yang beum tentu masyarakat mau menghargai mereka. yang paling mengejutkan relawan ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti polisi, TNI, maupun masyarakat sekitar. Terlepas dari sebagian elemen tersebut ini merupakan tugas wajib bagiku ini adalah suatu bentuk pengorbanan dan kerelaan. Longsor ini sudah terjadi sebelum lebaran, dan sekarang sudah H+2 artinya mereka (red relawan) sudah cukup lama terjun di lapangan. Berkali-kali beberapa relawan dibuat kesal dengan ulah pengendara motor yang selalu menyerobot sehingga jalan terhambat, namun mereka tetap santun dan beretika ketika memberi peringatan dan teguran. Saya saja yang baru sebentar tertahan disana cukup geram dengan ulah pengendara motor. seandainya saja saya tidak berpendidikan maka kata-kata binatang sudah keluar dari mulutku.

(sepintas saya teringat akan pengorbanan para panitia OSKM 2010 yang mengorbankan waktu liburnya hanya untuk menyukseskan kaderisasi ITB, terima kasih kawan rindu berjuang bersama kalian)

Mungkin kita kesal dengan ulah beberapa oknum TNI dan Polisi yang mencemarkan keluhuran institusinya seperti mafia hukum, mafia jalanan, pelecehan seksual. Namun patutlah kita berbangga pada beberapa diantara mereka yang masih setia berprinsip layaknya ksatria dalam membantu masyarakat. Sempat kulihat senyum santun salah seorang relawan yang berbaju TNI ke arah mobil kami untuk mempersilahkan jalan. Hal itu membuatku terharu, bisa-bisanya dalam kondisi itu mereka masih memberikan senyum. Padahal di sekitar mereka masih saja ada oknum masyarakat -pengendara yang menyerobot jalan- yang tidak menghargai jerih mereka.

Seribu Jalan Menuju Pamengpeuk (Part 1)

Pagi itu Jum’at yang cukup melelahkan kurang tidur, kurang istirahat, kurang makan, kurang ganteng (yang ini ngga sih) sudah menjadi rutinitas.Namun pagi itu merupakan sesuatu yang spesial dan memang ternyata menjadi spesial. Dikaltsar KORSA minggu terakhir merupakan momen yang dinanti, tiga minggu sebelumnya diriku tak pernah bisa ikut secara optimal. Mulai dari sakit, pengamatan mikroba, sampai syukuran milad menjadi kerikil-kerikil dalam perjuangan.

“kalian akan diberangkatkan dengan biaya Rp.20.000 ke Pamengpeuk, tidak boleh memakai uang prib Baca lebih lanjut