Inspirasi Mudik 1431 H

Tulisan ini didesikasikan bagi jiwa-jiwa yag memiliki ketulusan penuh dalam berjuang dan tak kenal pamrih

11-9-10
Saat itu merupakan perjalanan kami sekeluarga pulang ke Tangerang. Setelah selama kurang lebih 2 hari kami mudik ke Banjarwangi, Desa Kadongdong. Perjalanan ke Banjarwangi cukup beresiko (lebay juga sh), tikungan yang tajam disertai turunan-tanjakan terjal berliku merupakan tantangan para pemudik setiap tahunnya, ditambah ancaman tanah longsor dan pohon tumbang yang menghantui para pengguna jalan. Desa Kadongdong berada di kecamatan Banjarwangi, suatu kecamatan yang cukup unik dan spesial, karena berada di kawasan lembah yang dikelilingi perbukitan dan gunung di sekitarnya, menjadikan kawasan ini seperti terisolir dari dunia luar. Untuk menuju kesana hanya ada satu akses lalu intas yang dilewati yaitu jalur yang biasa ditempuh oleh mobil elf dengan trayek Garut-Singajaya. jalur yang menuju ke arah selatan kota Garut, hampir searah dengan Kec. Pamengpeuk yang akhirnya dipisahkan sebuah pertigaan di daerah Cikajang. Seandainya dari arah Garut, belok kanan adalah ke Pameungpeuk maka belok kiri adalah ke arah Banjarwangi.

Seperti biasa jalan yang kami lewati merupakan jalan berkelok sempit dengan tebing yang cukup curam di sampingnya, bahkan kamipun sampai meminta bantuan kepada sanak saudara yang lebih berpengalaman menghadapi rintangan jalan untuk mengendarai mobil kami. Ketika berangkat mudik kemarin sebenarnya kami melewati bekas lelehan tanah longsor yang menimpa jalan dan hampir menutup separuh jalan, untungnya saat itu kami berangkat pada dini hari sehingga  kami mampu melewati daerah longsor tersebut sengan aman dan lancar. sampai H+2 lebaran kami mendengar kabar bahwa daerah tersebut masih rentan longsor, bahkan agar bisa dilewati dengan aman jalan tersebut diberlakukan sistem buka-tutup yang berpengaruh hingga radius 2,5 km (bayangkan 2,5 km ini dalam jalanan yang berkelok dan sempit, bukan jalan lurus seperti di kota). Konsekuensi logis yang harus kami terima dengan situasi tersebut adalah terhambat macet akibat sistem buka tutup. akhirnya kami pun tiba di lokasi, dalam radius kira-kira 1,5 km dari pusat longsor mobil kami terhenti disana. Terihat beberapa mobil dengan plat dari kota-kota di luar Garut yang berada di depan, belakang, maupun yang bergerak dari arah berlawanan. Kadangkala orang yang berada di mobil-mobil tersebut adalah teman atau sanak saudara kami yang kebetulan sama-sama mudik di dtempat yang sama, sehingga ketika ada mobil kami saling berpapasan tak heran kami pun saling mengamati satu sama lain berharap di mobil tersebut ada yang kami kenal. Sungguh ini merupakan pemandangan yang menarik bagiku.

Selang beberapa menit, tiba-tiba mobil yang harusnya berjalan dari arah lawan tiba-tiba terhenti, terang saja kami bingung dan cemas. Posisi deadlock tidak dapat kemana-mana. Selidik demi selidik ternyata itu disebabkan oleh para pengguna motor dari jalan yang ditutup (yang searah dengan mobil kami) tidak mau bersabar untuk menunggu dan berhenti. para pengguna motor tersebut menerobos ruas jalan berlawanan yang dibuka. hal ini menyebabkan jalan menjadi sempit dan macet, padahal ukuran jalan tersebut berbeda dari jalan yang ada di perkotaan yang relatif besar, sehingga ketika ruas jalan yang seharusnya dipakai oleh mobil di arah berlawanan diserobot motor maka kemacetanlah yang terjadi, padahal sudah diminta berhenti di jalur yang seharusnya.

Sedikit kesal memang melihat kejadian di atas, namun kekesalan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jerih payah para relawan yang mengatur barisan mobil agar tertib. relawan inilah yang membuatku terhenyak dan kagum, disaat mereka seharusnya berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara ternyata mereka harus melayani masyarakat yang beum tentu masyarakat mau menghargai mereka. yang paling mengejutkan relawan ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat seperti polisi, TNI, maupun masyarakat sekitar. Terlepas dari sebagian elemen tersebut ini merupakan tugas wajib bagiku ini adalah suatu bentuk pengorbanan dan kerelaan. Longsor ini sudah terjadi sebelum lebaran, dan sekarang sudah H+2 artinya mereka (red relawan) sudah cukup lama terjun di lapangan. Berkali-kali beberapa relawan dibuat kesal dengan ulah pengendara motor yang selalu menyerobot sehingga jalan terhambat, namun mereka tetap santun dan beretika ketika memberi peringatan dan teguran. Saya saja yang baru sebentar tertahan disana cukup geram dengan ulah pengendara motor. seandainya saja saya tidak berpendidikan maka kata-kata binatang sudah keluar dari mulutku.

(sepintas saya teringat akan pengorbanan para panitia OSKM 2010 yang mengorbankan waktu liburnya hanya untuk menyukseskan kaderisasi ITB, terima kasih kawan rindu berjuang bersama kalian)

Mungkin kita kesal dengan ulah beberapa oknum TNI dan Polisi yang mencemarkan keluhuran institusinya seperti mafia hukum, mafia jalanan, pelecehan seksual. Namun patutlah kita berbangga pada beberapa diantara mereka yang masih setia berprinsip layaknya ksatria dalam membantu masyarakat. Sempat kulihat senyum santun salah seorang relawan yang berbaju TNI ke arah mobil kami untuk mempersilahkan jalan. Hal itu membuatku terharu, bisa-bisanya dalam kondisi itu mereka masih memberikan senyum. Padahal di sekitar mereka masih saja ada oknum masyarakat -pengendara yang menyerobot jalan- yang tidak menghargai jerih mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s