Seribu Jalan Menuju Pamengpeuk (Part 1)

Pagi itu Jum’at yang cukup melelahkan kurang tidur, kurang istirahat, kurang makan, kurang ganteng (yang ini ngga sih) sudah menjadi rutinitas.Namun pagi itu merupakan sesuatu yang spesial dan memang ternyata menjadi spesial. Dikaltsar KORSA minggu terakhir merupakan momen yang dinanti, tiga minggu sebelumnya diriku tak pernah bisa ikut secara optimal. Mulai dari sakit, pengamatan mikroba, sampai syukuran milad menjadi kerikil-kerikil dalam perjuangan.

“kalian akan diberangkatkan dengan biaya Rp.20.000 ke Pamengpeuk, tidak boleh memakai uang pribadi, hanya boleh memakai uang dari panitia sebesar yang bersngkutan” sahut panitia dengan lantang

“gila” pikirku, “masa iya, setahuku Garut bandung saja sudah 10-15rb,,belum Garut-Pamengpeuknya ga mungkin cuma 5 rb”,

Entah mengapa hatiku membangkang terhadap pikiranku sendiri, jantungku berdegup seirama dengan sekresi adrenalin yang juga meninggikan bulu romaku

“aku tertantang”, pekikku dalam hati.

Terlebih ketika panitia membuat ini menjadi kompetisi antar kelompok, siapa yang sampai sebelum jam 5 sore di Pamengpeuk dan dengan biaya terkecil, dialah yang menang. Biaya itu pun hanya dihitung dari ongkos saja, uang makan dibebaskan.

“silahkan kalian merencanakan strategi sebelum diberangkatkan dengan sistem reli”pekik panitia.

Saat itu aku merupakan ketua Tim dari kelompok satu, kelompok yang terdiri dari 4 orang termasuk diriku, dua orang akhwat yaitu teh Endah dan TEh Dhea dan satu orang Ikhwan jurusan geologi ITB, taufiq.
Jujur mereka adalah orang yang baru pertama kali kukenal, bahkan diantaranya baru pertama kali bertemu. Meskipun sudah diklat yang keempat bukan jaminan kami saling mengenal dengan baik peserta diklatsar mungkin karena kehadiran diriku yang tak optimal dan juga kami yang kebetulan tidak pernah jodoh dalam setiap diklat.

Namun seJujurnya itu bukan masalah, kedekatan kami mengalir begitu saja (mungkin karena kondisi juga). Dalam sekejap aku sendiri suah bisa menggambarkan kepribadian mereka meski secara subjektif, teh Endah seorang akhwat yang cukup apik dan cair setelan celana panjangnya sudah membuatku yakin kalau dia siap terjun dilapangan. Teh dhea akhwat yang cair dan supel juga, setelan rok panjang khas akhwat tidak menghambatnya untuk terus bergerak. Taufiq, awalnya aku mengira dia pendiam namun dia salah satu ikhwan yang tangguh dengan segala kesiapan logistiknya yang mendukung selama perjalanan.

Rencana pun dimatangkan, awalnya kami benar-benar tidak memiliki solusi pasti mengenai arah rute yang cocok, dan sesuai dengan ongkos. Beruntung kami merupakan kelompok terakhir yang diberangkatkan. Di penghujng terakhir akhirnya kami mendaptkan info yang cukup valid dari seorang yang sangat kupercaya,Mang asep, (nuhun nya mang) kami bisa mendapat rute dengan tarif 4300 rupiah aja menuju Garut, caranya dngan naik bis ekonomi Dipati Ukur-Jatinangor turun di Cilenyi kemudian dilanjutkan dengan menaiki bis PRIMAJASA LEbak Bulus-Garut -harus PRIMAJASA- dengan tarif 3rbu.

Akhirnya dengan semangat menggebu-gebu kami memulai perjalanan kami menuju Dipati Ukur dengan berjalan kaki, untaian asma Allah mengiringi langkah kecil kami. Kecil memang dibandingkan ddengan hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah yang menjadi salah saat momentum perjuangan Rasulullah menegakkan illah ini. Kami pun berharap ini menjadi momentum dalam untaian kerja dakwah kami, yang dapat menjadi penyemangat untuk terus bergerak.

DIpati Ukur, “keputusan cepat meskipun salah lebih baik daripada keputusan benar tetapi lambat”

Puncak MPR (Monumen Perjuangan Rakyat) yang megah terlihat. Berdiri kokoh dan tegak di depan kampus Padjdjaran, Monumen itu menyambut langkah kami sekaligus menandakan kepada kami bahwa Dipati Ukur telah kami injak tanahnya. BUs bertuliskan Dipati Ukur-Jatinangor pun terlihat, sekejap membuat hati kami senang, namun kesenangan itu hanya sesaat karena kami tidak melihat adanya jendela yang terbuka disamping bus yang menandakan bahwa bus itu merpakan bus AC bukan bu Ekonomi yang tarifnya lebih murah

“pak kalo ke Cileunyi berapa y?”, tanyaku
“4500 d,,sama kaya ke Jatinangor”,jawab pak supir

huh kami menarik nafas dalm-dalam, berusaha menenangkan diri karena hal ini akan merusak semua rencana kita. kami berusaha tenang dengan menunggu bis selanjutnya. Harapan kami terkabul, Alhamdulillah kami melihat tiga bus di belakang, tapi yang jadi masalahnya semua bus tersebut juga bus AC dengan tarif yang sama mahalnya dengan bus yang sebelumnya…waduhhh

Di tengah kegalauan,kami pun berfikir kembali mengenai rencana kami, seandainya kami harus menunggu ampai bus ekonomi muncul tak akan menjamin kami sampai tujuan tepat pada waktunya. Begitu juga seandainya kami harus mengeluarkan ongkos 4500 d awal, tak ada kepastian uang akan cukup sampai Pamengpeuk. Di tengah-tengah diskusi tiba-tiba bus pertama berjalan perlahan meninggalkan kami yang saat itu berada diluar pintu.

Akhwat (entah teh DHEa aau TEh Endah ) berkata

“yaudah naik ini aja mending”,Tanpa pikir panjang lagi kami pun langsung loncat kearah bis dan langsung naik

“sekarang kita kehilangan Rp. 4500/ orang” keluhku dalam hati.

Di bus, jangankan untuk tidur, untuk duduk pun aku masih tak ingin sengaja aku taruh tas carrier ku yang bear dan berat di kursi sehingga aku tak bisa duduk leluasa. Konflik batin melanda antara benar atau tidaknya keputusan yang diambl. Sadar itu bukan solusi, kualihkan segera energiku untuk memikirkan rencana selanjutnya

“mau g mau harus naik truk atau cari tebengan gratis ke Garut”
pikirku secara optimis

Cileunyi
“Pertolongan Allah itu datang pada saat yang tepat”

“Garut-Garut, ,,a bade ke garut??!!” teriak kondektur menawarkan jasa dengan penuh semangat
“berapaan kang ke Garut? ” tanya ku
“biasa lah 15 rbu’, jawab kondektur
“wah g bisa kurang kang?”
“mau berapa??sok aja ditawar”, balas kondektur penuh semangat
“tiga ribu gimana?”jawabku cepat
tanpa pikir panjang sang kondektur pulangsung meninggalkan kami. Sudah tiga kondektur yang menawarka kami dan reaksi yang sama pun diungkapkan ktika kami menawarkan harga tigaribu
mungkin harga yang kami tawar sangat rendah, jelas sangat rendah. Tarif yang lumrah Cileunyi Garut adalah 5000-10000, itupun sudah termasuk murah. Memang kami tidak punya banyak pilihan, uang kamitinggal 15000 per orang dan itu sangat kurang untuk mencapai Pamengpeuk.
Kala itu waktu menunjukkan jam 11 siang, matahari semakin meninggi dan ransel yang kami bawa pun masih berat penuh dengan kepenuhan logistik. Untuk menghindari kelelahan kami pun berjalan dala satu banjar dengan diriku sebagai terdapan dan taufiq paling belakang, mungkin aku menamainya “Formasi Kencana”. Formasi dimana laki-laki melindungi perempuan. Formasi ini sangat khas, karena laki-laki yang notabene-nya memiliki kekuatan lebih harus berada di barisan paling luar melindungi wanita.

(bersambung)

Iklan

3 thoughts on “Seribu Jalan Menuju Pamengpeuk (Part 1)

  1. jinkomet berkata:

    wah ane kmren jg baru dr sana sama tmn2 gan!!!naek motor, lumayan jauh se, lewat gunung2 gtu, tp wktu sampai pantainya djamin puas!!!
    bgs bgt, dgr2 penginapan dsna jg murah2 sktr 50rbuan/mlm!!!
    tukeran link bisa g???
    http://jinkomet.wordpress.com/
    thx.. 🙂

  2. alhaq28 berkata:

    Ane juga udah Bro. Keren lah, sunsetnya apalagi. hehehe…
    Oya, Selamat! gw nulis “menuju pamengpeuk” dan blog bro ada di daftar yang paling atas. semangat menulis bro! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s